Waliullah Syaikhona Muhammad Cholil Dianugerahi Gelar Sebagai Pahlawan Nasional, Mengapa Tidak?

Al-‘Alim al-Allamah asy-Syekh Haji Muhammad Kholil bin Abdul Lathif al-Bangkalani al-Maduri al-Jawi asy-Syafi’I atau lebih dikenal dengan nama Syaikhona Kholil atau Syekh Kholiladalah seorang Ulama kharismatik dari Pulau Madura, Provinsi Jawa Timur,Indonesia.Syekh Kholil al-Bangkalani berasal dari keturunan ulama. Ayahnya, KH Abdul Latif ,mempunyai pertalian darah dengan Sunan Gunung Jati. Ayah Abdul Latif adalah Kiai Hamim, putra dari Kiai Abdul Karim bin Kiai Muharram bin Kiai Asror Karomah bin Kiai Abdullah bin Sayyid Sulaiman Basyelban. Sayyid Sulaiman merupakan cucu dari Sunan Gunung  Jati dari garis ibu.

Pengusulan Syekh Muhammad Kholil Al-Bangkalani atau yang lebih akrab dengan sebutan Syaikhona Cholil sebagai Pahlawan Nasional merupakan sesuatu yang niscaya. Apa sebab? Membaca rekam jejak beliau yang sepanjang degup nafasnya didedikasikan untuk kepentingan ummat. Beliau tidak hanya dikenal sebagai seorang  Ulama kharismatik, namun juga dikenal sebagai Waliyullah.

Sebetulnya Pengusulan gelar Pahlawan Nasional bagi Waliyullah Syaikhona Cholil yang akhir-akhir ini santer merebak menjadi issu nasional di berbagai media terkesan agak terlambat. Ini kalau kita merujuk pada tahun wafat beliau yaitu Desember 1925. Sedangkan Indonesia merdeka 17 Agustus tahun 1945. Bahkan dalam pemerintahan Presiden Soekarno selama 22 tahun menakhodai Negara Kesatuan Republik Indonesia, pemerintah luput untuk melakukan pembacaan itu. Kemudian berlanjut kepada pemerintahan Presiden Soekarno yang menjabat kurang lebih 32 tahun dan diikuti pula oleh Presiden berikutnya semisal: B.J.Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarno Putri serta Susilo Bambang Yudhoyono. Kalau kita hitung, setelah 96 tahun sejak beliau wafat.,sebuah angka yang cukup signifikan.

Sebab Hampir mencapai satu abad baru diusulkan supaya ditahbiskan sebagai Pahlawan  Nasional  Indonesia bertepatan dengan  era kepemimpinan  Presiden Joko Widodo, itu pun  atas dukungan  penuh dari Nahdlatul Ulama dan  Muhammadiyah sebagai ormas keagamaan terbesar di Indonesia serta dukungan dari tokoh masyarakat Madura, organisasi islam, akademisi, hingga politisi .Andai tidak begitu jasa dan perjuangan beliau akan menguap begitu saja dan berlalu tanpa ingatan kolektif. Terlalu naif dan miris !

Merujuk pada syarat-syarat dan bukti otentik dari Pemkab.Bangkalan yang dijadikan dasar usulan  Waliyullah Syaikhona  Cholil untuk dianugerahi gelar sebagai seorang Pahlawan Nasional adalah sebagai berikut:

1. Menjadi konseptor lahirnya Nahdlatul Ulama melalui K.H. Hasyim Asy’ari

2. Menjadi embrio lahirnya  pergerakan nasional dan nasionalisme di kalangan pesantren.

3. Menjadi episentrum jejaring ulama dan Islam Nusantara.

4. Mahaguru yang menghasilkan pejuang dan para pahlawan.

5. Peletak dasar nilai-nilai Islam Indonesia yang universal, moderat, terbuka, dan toleran.

6. Menjadi pelopor implementasi instrument pendidikan islam dalam pendidikan di Nusantara.

7. Menjadi pencetak kader ulama dan pahlawan nasional

Mengacu lewat sederet prestise dan capaian di atas yang cukup fenomenal, tak pelak lagi beliau sangat layak untuk dianugerahi gelar Pahlawan Nasional meski tergolong super lambat untuk orang sekaliber Waliyullah Syaikhona Cholil. Lalu apalagikah yang mesti diragukan dari kapasitas dan kredibilitas beliau? Sungguh pun demikian, kalau kita kaji dengan pisau analisis, secara logika anugerah gelar kepahlawanan atau taburan gelar dan tanda jasa amat jauh tak sebanding dengan maqam Syaikhona Cholil sebagai seorang waliullah. Namun bila menilik dari kacamata sejarah amatriskan apabila tidak sesegera mungkin didapuk sebagai Pahlawan Nasional dari Pulau Garam, Madura. Bahkan kalau pun dimasukkan ke dalam buku  “the Guinness book of world record” atau “ seratus tokoh paling berpengaruh dalam sejarah” seperti yang ditulis Michael H.Hart,saya kira sangat pantas karena jasa , pengabdian, pengorbanan dan perjuangan beliau melampaui itu semua, sebab seluruh hidupnya diwakafkan untuk bangsa dan negara.

Terakhir, merujuk kepada dawuh Bung Karno “ Bangsa Yang Besar Adalah Bangsa yang Menghargai Jasa Pahlawannya.” Maka sudah sewajarnyalah apabila Waliullah Syaikhona Cholil yang dijuluki Maha Guru  Nusantara serta  menelorkan para ulama khos sekelas Hadratus Syaikh K.H.Hasyim Asy’ari, K.H.Abdul Wahab,Hasbullah, K.H.R.As’ad Syamsul Arifin, Kyai Bisri Syansuri, Kyai Abdul Manaf, Kyai Maksum, Kyai Munawir,Kyai Bisri Mustofa, Kyai Nawawi, Kyai Ahmad Shiddiq dan lainnya. Bahkan Presiden Pertama yang juga Proklamator Kemerdekaan RI, Ir. Soekarno mengaku dan diakui sebagai murid beliau, untuk sesegera mungkin dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional.

Mengacu kepada usulan dari Pemkab.Bangkalan di atas,yang akan diteliti oleh Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Tingkat  Daerah (TP2GD), yang akan diteruskan ke Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Tingkat Pusat.Apalagi Menteri Sosial dan Gubernur Jawa Timur memberi sinyal kuat serta dukungan penuh dan akan memperjuangkan penganugerahan gelar Pahlawan kepada Waliyullah Syaikhona Cholil tersebut hingga ke Presiden RI.

Penganugerahan gelar sebagai Pahlawan Nasional kepada Waliullah Syaikhona Cholil digadang-gadang bertepatan dengan HUT ke-76 Kemerdekaan RI  yang akan diberikan oleh Presiden Joko Widodo.Ini semua menjadi kado terindah bagi kita semua yang hampir seabad menunggu momen bersejarah yang amat krusial ini.      

Penulis : Harkoni, Dusun Sembung RT.1/ RW.1 no.71, Kec. Banyuates, Kab. Sampang

(Juara Harapan II Lomba Essai se-Madura)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *